"Berhenti. Serahkan semua hartamu kalau masih sayang nyawa" teriak seseorang dari balik rimbunnya pepohonan. Tubuhnya besar, wajahnya tertutup cadar, dan sebilah pedang besar terangkat tinggi di tangannya. Di belakangnya, belasan orang dengan penampilan serupa berdiri rapat, sorot mata mereka liar dan penuh nafsu membunuh.

"Pimpinan, bunuh saja pemuda ini. Dari tampilannya saja sudah kelihatan dia cuma bocah tolol yang nggak punya apa-apa" kata pria bertopeng di barisan belakang dengan nada sinis dan jijik.

"Betul, Pimpinan. Buat apa repot-repot ancam dia segala. Serahkan padaku. Kalau dia masih ngeyel, langsung kupotong lehernya" ucap pria bertopeng lainnya sambil memainkan senjatanya, senyumnya kejam dan tak sabar.

"Kau dengar itu, bocah. Cepat serahkan hartamu, atau nyawamu jadi hiburan buat anak buahku. Lihat dirimu. Forging qi tingkat dua? Hah, kau pikir bisa melawan kami semua?" pimpinan mereka tertawa keras, suaranya bergema menggetarkan dedaunan hutan.

Pemuda di hadapan para perampok itu hanya diam sambil tersenyum. Dia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali mengalami kejadian serupa. Usianya sekitar dua puluhan, tubuhnya tidak terlalu kekar tapi juga tidak kurus. Posturnya tinggi dan tegap, dibalut jubah putih yang bersih. Sebagai seorang kultivator, kulitnya tampak halus seperti wanita. Wajah tampannya dihiasi senyum lembut seolah yang berdiri di depannya hanyalah anak-anak kecil yang sedang bermain-main.

Pemuda itu adalah Lynx.

Setelah memastikan Leena masih perlu waktu untuk memulihkan qi spiritualnya yang benar-benar habis, Lynx meninggalkannya di dunia kecil bersama Isha yang kini menemaninya.

Lynx juga telah mengusir awan gelap di langit ketika keluar dari dimensi kecil itu, menghalau petir kesengsaraan yang sejak tadi menunggu kemunculan Leena di dunia nyata.

Setelah memastikan kondisi Lala yang masih belum sadarkan diri dan tengah proses pemulihan, Lynx pun melanjutkan perjalanannya menuju kota Zhurong untuk menemui Jelita. Ia tidak merasakan keberadaan Kael maupun yang lainnya di kota itu.

Jelita tidak menduga sama sekali akan kehadiran Lynx. Terkejut dan bingung, ia refleks memeluk Lynx, sosok pria yang diam-diam dirindukannya selama ini.

Dari Jelita, Lynx mendapat informasi bahwa Kael dan Narendra sedang mencari Karim yang menghilang setelah mendapatkan petunjuk tentang Yin Yue, yang membawa salah satu fragmen senjata iblis.

Setelah mempelajari situasinya dan mengajak Jelita masuk ke dalam Pagoda Qingling untuk menjaga Lala, Lynx pun melanjutkan perjalanannya. Namun sejak keluar dari kota Zhurong, Lynx mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Ada ketidakseimbangan yang membuatnya kesulitan mengontrol kekuatannya sendiri.

Lynx berpikir bahwa dirinya mungkin terlalu lelah karena begitu banyak hal yang terjadi belakangan ini, hingga dia mulai kesulitan menjaga kestabilan diri. Bahkan, dia tak bisa lagi merasakan keberadaan energi sakti yang seharusnya ada pada kertas formasi yang dibawa oleh Kael, Narendra, Arkha, ataupun Karim.

Tanpa mengetahui arah tujuan, Lynx berangkat menuju kota Huoling, menemui Zhen Huan yang masih berada di tempat tersebut untuk mendapatkan informasi lebih lanjut sambil memeriksa kondisi tubuhnya diperjalanan.

Saat berlari cepat, Lynx merasakan keanehan di tubuhnya, sensasi yang belum pernah dirasakan sebelumnya sehingga dia memilih berjalan santai sambil menikmati perjalanannya. Dan saat itulah beberapa orang bertopeng datang menghentikannya.

"Wah, aku tidak memiliki harta, bagaimana ya? Kalian lihat sendiri pakaianku seperti ini" jawab Lynx sambil tersenyum santai, seolah ancaman yang mengelilinginya hanyalah angin lalu.

"Pemimpin, biar aku beri pelajaran pemuda ini! Berani-beraninya senyum-senyum memandang remeh kita" ujar seorang perampok berbadan besar dengan nada geram. Ia segera melangkah maju, mengeluarkan aura kuat dari tubuhnya. Forging qi tingkat enam menyelimuti dirinya, membuat tanah di sekitarnya sedikit bergetar.

Pemimpin mereka, seorang pria dengan kekuatan di tingkat forging qi delapan, hanya berdiri diam memandangi anggotanya yang maju. Di tangannya tergenggam pedang besar, senjata andalan yang sering membuat musuh gentar hanya dengan melihatnya.

"Aku akan hapus senyummu, dan kalau perlu, kugambari wajahmu supaya jadi lebih menarik" ujar pria itu sambil menyeringai. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, lalu mengarahkannya langsung ke Lynx.

Tanpa membuang waktu, pria itu berlari dengan kecepatan penuh. Niatnya jelas, ingin menghantam Lynx dengan gagang pedangnya. Namun saat jarak tinggal sejengkal dan serangan hendak dilepaskan, sebuah suara menggelegar menghentikan langkahnya.

"Hentikan!"

Perampok berbadan besar itu sontak berhenti, matanya melebar karena terkejut. Suara itu tak berasal dari Lynx, melainkan dari arah belakang.

Seorang wanita muncul perlahan dari balik pepohonan. Wajahnya cantik memesona, dengan mata tajam dan sorot penuh percaya diri. Pakaiannya terlihat sederhana namun tidak dapat menutupi kemewahannya yang terbuat dari kain mahal berwarna merah keemasan yang menunjukkan statusnya sebagai orang kaya raya. Di belakangnya, berdiri seorang pria tua berjubah gelap. Wajahnya tenang namun penuh wibawa. Aura dari tubuhnya terasa berat dan menakutkan, membuat hawa di sekitar mereka seolah menegang.

Perampok yang tadi hendak menyerang Lynx mengerutkan kening. Ia tidak senang karena seorang gadis berani menghentikannya saat dia beraksi. Wajahnya merah karena amarah, dan tanpa berpikir panjang, ia kembali mengayunkan pedang, tetap mengarah ke Lynx dengan kemarahan membara.

Pemimpin para perampok membuka mulut, hendak menghentikannya. Tatapannya berubah serius karena menyadari tekanan aura terpancar dari gadis itu, dan terutama, pria tua di belakangnya. Mereka bukan orang yang bisa diremehkan. Tapi semuanya sudah terlambat.

Gadis itu bergerak. Tubuhnya melesat cepat bagaikan kilat. Sebilah pedang ramping muncul di tangannya, terhunus dengan gemerlap tajam. Dalam sekejap, gerakannya berubah menjadi lengkungan anggun seperti tarian seekor naga di udara.

CRASH.

Darah memercik.

Leher perampok itu terpotong bersih. Tubuhnya jatuh ke tanah tanpa suara, menyisakan keheningan yang mencekam.

Pimpinan perampok terkejut, matanya membelalak. Tanpa aba-aba, ia berbalik dan melarikan diri bersama seluruh anak buahnya, tak ada lagi keberanian tersisa dalam dada mereka.

Gadis itu bersiap mengejar, matanya menyipit, tubuhnya condong ke depan. Tapi sebelum dia melangkah, sebuah tangan terangkat di sampingnya.

Lynx berdiri tenang, menatap gadis itu dengan senyum tipis.

"Biarkan saja" ucapnya pelan. "Kita tidak perlu mengejar mereka."

"Kenapa kamu menghentikanku? Apakah kamu tidak tahu perbuatan mereka bisa merugikan banyak penduduk yang lewat. Kalau aku tidak kebetulan lewat, nyawamu pun bisa melayang" ujar gadis itu dengan nada tajam, matanya menatap lurus ke arah Lynx. Suaranya tegas, penuh kemarahan yang tertahan, namun di baliknya terselip kepedulian yang tulus.

Lynx hanya tersenyum pelan, menatapnya tanpa berkata apa-apa. Di balik tatapan lembut itu, pikirannya melayang.

"Cara bicara gadis ini... persis seperti Li Wei, putri walikota kota Yunqing. Sifatnya yang pemarah namun berhati baik." batin Lynx.

Lynx menghela napas pelan."Aku hanya tidak ingin gadis sepertimu melakukan pembunuhan" ucapnya lembut.

Bukannya menghargai perkataan Lynx, gadis itu justru terlihat makin marah."Jadi menurutmu aku harus diam saja melihat ketidakadilan di depan mataku?" katanya dengan mata membelalak, nadanya tinggi. Ia lalu memasukkan kembali pedangnya ke dalam cincin penyimpanan dengan gerakan cepat dan kesal.

Lynx menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ekspresinya bingung. Ia tak tahu harus menjawab apa. Pandangannya pun beralih ke pria tua di belakang gadis itu, yang sejak tadi menatapnya dengan sorot mata tajam dan sikap penuh kehati-hatian.

"Sudahlah. Anggap saja ini hari keberuntungan mereka" ujar gadis itu sambil menghela napas panjang.

Ia menatap Lynx dengan sorot mata serius."Sebaiknya kamu lebih berhati-hati lain kali. Menghindari penjahat seperti mereka jauh lebih bijak. Karena bisa jadi, tidak akan ada lagi seseorang yang muncul untuk menyelamatkanmu."

"Ayo, Paman" ucapnya singkat, lalu tanpa menunggu respons dari Lynx, ia membalikkan tubuh dan melangkah pergi, diikuti pria tua yang berjalan tenang di belakangnya.

"Tunggu!" teriak Lynx.

Gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh, alisnya sedikit terangkat."Apa maumu?"

"Aku belum sempat mengucapkan terima kasih. Namaku Lynx. Siapa namamu?" tanya Lynx sambil tersenyum.

"Namaku tidak perlu kamu ketahui. Kita mungkin tidak akan pernah bertemu lagi" jawab gadis itu datar, lalu kembali beranjak pergi bersama pria tua tanpa menoleh lagi.

